Sistem bagaikan sebuah tali yang terhubung pada semua
titik-titik dalam satu rangkaian jebakan yang dibuat untuk menghancurkan
musuh. Ketika satu titik saja mengalami disfungsi karena kesalahan pemasangan
maka keseluruhan dari rangkaian jebakan tersebut dapat dipastikan gagal total.
Sistem tersebut dibuat dengan tujuan-tujuan yang jelas, dalam analogi diatas
adalah untuk menghancurkan musuh.
Kejadiannya hampir sama seperti sistem pendidikan yang ada
di Indonesia dan juga di negara lain, ketika semua peraturan-peraturan dibuat
dengan harapan siswa-siswi menjadi lebih disiplin dan tentu saja pintar. Namun
terkadang peraturan yang dibuat tidak memiliki esensi yang jelas, terkesan
hanya memaksakan dan mengikuti pola peraturan yang telah diterapkan sejak
dahulu. We just running (maybe) on the right track, we don't need to improve.
Max Weber menyebutnya sebagai Tindakan Tradisional, yaitu perilaku yang
dilakukan tanpa rasionalitas dan tetap dijalankan hanya karena sudah menjadi
budaya yang turun temurun. Ttidak pernah ada usaha untuk mengkonstruksikan
ulang mengenai peran dan fungsi peraturan yang seharusnya.
Peraturan yang tidak memiliki esensi yang jelas adalah
peraturan yang sebelum ataupun sesudah dilaksanakan tidak menimbulkan perubahan
yang berarti, singkatnya adalah tidak ada nilai-nilai yang dikejar. Hanya
sebuah peraturan kosong. Tentunya tulisan ini tidak ingin menjadi tulissan yang
kosong juga dengan tidak memberikan contoh nyata dari hal-hal yang telah
diungkapkan di atas.
Banyak peraturan yang sebenarnya tidak terlalu mendesak
untuk dijalankan. Contoh nyatanya adalah siswa diwajibkan memakai sepatu warna
hitam dan ini masih berlaku di beberapa sekolah. Jika semua siswa sudah memakai
sepatu warna hitam lalu apa yang akan terjadi? nilai apa yang sedang dikejar?
kedisiplinan? tidak adakah nilai lain yang juga sedang dikejar? Prosesnya hanya
akan berhenti di titik ketika sepatu hitam sudah digunakan dan tidak ada hal
yang akan terjadi selanjutnya. Mungkin akan ada yang bertanya-tanya, siswa akan
mengerti tentang keseragaman dan mengerti bahwa kita semua ini sama. Saya
sebenarnya tidak terlalu setuju dengan konsep keseragaman, karena perbedaan
memang untuk dipelihara. Saya mengutip pernyataan dari Pandji Pragiwaksono, memang seharusnya kita bersatu,
walau bukan menjadi satu. Perbedaan
membuat kita bersatu namun bukan untuk menjadi satu, untuk menjadi sama.
Beda halnya apabila ada peraturan jika bertemu guru
diharuskan untuk memberikan salam. Dalam peraturan itu terselip nilai
kesopanan, siswa diajarkan untuk mematuhi aturan yang berlaku karena kesadaran
mereka mengenai nilai kesopanan tadi. Singkat kata siswa tahu benar maksud dan
tujuan dari kenapa peraturan tersebut dibuat dan dapat berpikir secara rasional
atas alasannya sendiri mengapa dia perlu melakukan hal tersebut. Selai nilai
kedisplinan didapat, nilai kesopanan pun juga. Nilai kesopanan yang didapat
dari peraturan tadi mampu mereka diaplikasikan ke kehidupan nyata ketika berada
di masyarakat. Banyak peraturan yang kejadiannya sama dengan di atas, silakan
kalian cari sendiri di lembaga pendidikan masing-masing.
Peraturan hendaknya tidak hanya untuk ditaati namun
dipahami. Peraturan harus berjalan atas kesadaran sendiri, bukan mengejar
nilai-nilai yang kosong esensi.
Peraturan yang tidak memiliki fungsi yang maksimal
berakibat kepada tujuan pendidikan yang seharusnya mengajarkan banyak nilai
selain juga ilmu tidak berjalan dengan baik. Keseluruhan dari sistem akan
terganggu karena adanya satu unit yang tidak memberikan perannya sesuai dengan
yang diharapkan. Diperlukan pemikiran ulang mengenai konsep peran dan fungsi
peraturan yang terkadang kosong esensi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar