Minggu, 12 April 2015

KOSONG ESENSI

Sistem bagaikan sebuah tali yang terhubung pada semua titik-titik  dalam satu rangkaian jebakan yang dibuat untuk menghancurkan musuh. Ketika satu titik saja mengalami disfungsi karena kesalahan pemasangan maka keseluruhan dari rangkaian jebakan tersebut dapat dipastikan gagal total. Sistem tersebut dibuat dengan tujuan-tujuan yang jelas, dalam analogi diatas adalah untuk menghancurkan musuh.

Kejadiannya hampir sama seperti sistem pendidikan yang ada di Indonesia dan juga di negara lain, ketika semua peraturan-peraturan dibuat dengan harapan siswa-siswi menjadi lebih disiplin dan tentu saja pintar. Namun terkadang peraturan yang dibuat tidak memiliki esensi yang jelas, terkesan hanya memaksakan dan mengikuti pola peraturan yang telah diterapkan sejak dahulu. We just running (maybe) on the right track, we don't need to improve. Max Weber menyebutnya sebagai Tindakan Tradisional, yaitu perilaku yang dilakukan tanpa rasionalitas dan tetap dijalankan hanya karena sudah menjadi budaya yang turun temurun. Ttidak pernah ada usaha untuk mengkonstruksikan ulang mengenai peran dan fungsi peraturan yang seharusnya.

Peraturan yang tidak memiliki esensi yang jelas adalah peraturan yang sebelum ataupun sesudah dilaksanakan tidak menimbulkan perubahan yang berarti, singkatnya adalah tidak ada nilai-nilai yang dikejar. Hanya sebuah peraturan kosong. Tentunya tulisan ini tidak ingin menjadi tulissan yang kosong juga dengan tidak memberikan contoh nyata dari hal-hal yang telah diungkapkan di atas. 

Banyak peraturan yang sebenarnya tidak terlalu mendesak untuk dijalankan. Contoh nyatanya adalah siswa diwajibkan memakai sepatu warna hitam dan ini masih berlaku di beberapa sekolah. Jika semua siswa sudah memakai sepatu warna hitam lalu apa yang akan terjadi? nilai apa yang sedang dikejar? kedisiplinan? tidak adakah nilai lain yang juga sedang dikejar? Prosesnya hanya akan berhenti di titik ketika sepatu hitam sudah digunakan dan tidak ada hal yang akan terjadi selanjutnya. Mungkin akan ada yang bertanya-tanya, siswa akan mengerti tentang keseragaman dan mengerti bahwa kita semua ini sama. Saya sebenarnya tidak terlalu setuju dengan konsep keseragaman, karena perbedaan memang untuk dipelihara. Saya mengutip pernyataan dari Pandji Pragiwaksono, memang seharusnya kita bersatu, walau bukan menjadi satu. Perbedaan membuat kita bersatu namun bukan untuk menjadi satu, untuk menjadi sama.

Beda halnya apabila ada peraturan jika bertemu guru diharuskan untuk memberikan salam. Dalam peraturan itu terselip nilai kesopanan, siswa diajarkan untuk mematuhi aturan yang berlaku karena kesadaran mereka mengenai nilai kesopanan tadi. Singkat kata siswa tahu benar maksud dan tujuan dari kenapa peraturan tersebut dibuat dan dapat berpikir secara rasional atas alasannya sendiri mengapa dia perlu melakukan hal tersebut. Selai nilai kedisplinan didapat, nilai kesopanan pun juga. Nilai kesopanan yang didapat dari peraturan tadi mampu mereka diaplikasikan ke kehidupan nyata ketika berada di masyarakat. Banyak peraturan yang kejadiannya sama dengan di atas, silakan kalian cari sendiri di lembaga pendidikan masing-masing. 

Peraturan  hendaknya tidak hanya untuk ditaati namun dipahami. Peraturan harus berjalan atas kesadaran sendiri, bukan mengejar nilai-nilai yang kosong esensi.

Peraturan yang tidak memiliki fungsi yang maksimal berakibat kepada tujuan pendidikan yang seharusnya mengajarkan banyak nilai selain juga ilmu tidak berjalan dengan baik. Keseluruhan dari sistem akan terganggu karena adanya satu unit yang tidak memberikan perannya sesuai dengan yang diharapkan. Diperlukan pemikiran ulang mengenai konsep peran dan fungsi peraturan yang terkadang kosong esensi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar