https://hollywoodhatesme.wordpress.com/tag/invisible-man/
Indonesia memang negara
besar, maklum kita penduduknya lebih dari 200 juta. Eh, bukan negara besar tapi
negara berpenduduk besar. Dengan penduduk yang begitu banyak sulit rasanya
untuk menyatukan semua pendapat. Sebenarnya pendapat tidak perlu untuk
disatukan juga, disesuaikan saja sudah cukup. Disesuaikan dengan keinginan para
pejabat. Disesuaikan dengan keinginan media massa.
Media massa sering
membawa-bawa headline “Rakyat menolak kebijakan…rakyat tidak setuju dengan…Pemerintah
tidak memihak kepada rakyat…dan bla bla bla masih banyak headline lain yang
selalu bawa-bawa rakyat”. Permasalahannya adalah rakyat yang mana yang kalian
maksud hai para orang-orang yang berada di balik media penggiringan opini
publik ini? Rakyat Indonesia? Sepertinya cuman itu-itu aja orangnya yang getol
menolak kebijakan yang dianggap tidak pro rakyat? Yang lain ke mana? Kok diem
aja? Termasuk saya.
Yang lagi panas-panasnya
adalah rakyat menolak dana aspirasi DPR, entah aspirasi rakyat yang mana yang
mau mereka tampung. Kalau dilihat dengan jeli, golongan rakyat yang dengan
semangat menolak dana aspirasi (biasanya isu-isu politik yang lain juga)
hanyalah berkutat pada LSM yang jumlahnya bisa dihitung, mahasiswa aktivis, sedikit rakyat dan segelitir
akademisi-akademisi yang sedang tidak berpura-pura bisu dan tuli. Yang lain
mungkin juga peduli tapi penolakannya cuman disimpan di dalam hati saja. Kenapa
saya katakan sedikit rakyat? Karena rakyat Indonesia menurut saya bisa dibagi menjadi
tiga golongan yaitu rakyat yang melek
politik dan peduli politik, rakyat yang melek politik dan tidak peduli
politik, dan rakyat yang tidak melek politik dan otomatis tidak peduli politik.
Parahnya, golongan rakyat yang pertama saya sebutkan tadi adalah yang paling
sedikit atau setidaknya yang mau menampakkan diri hanya sedikit. Golongan yang
kita harapkan dapat membawa perubahan justru sangat miris kalau melihat
jumlahnya.
Bingung aja, kenapa
setiap kali ada kontroversi yang dibuat oleh wakil rakyat hanya segelintir
orang saja yang dengan bersemangat menunjukkan bahwa mereka peduli dengan nasib
negara?. Kenapa setiap ada kontroversi yang dibuat oleh wakil rakyat, timeline
di Line dan Twitter saya tetap didominasi oleh kegalauan para remaja tentang
percintaan yang seakan-akan beban dunia ini mereka sendiri yang menanggungnya?.
Ah, semoga saja saya hanya salah follow
orang. Padahal kita sedang mengalami bonus demografi dengan banyaknya rakyat
dengan usia produktif yang tersedia. Dengan kondisi tersebut seharusnya banyak
anak muda yang mampu membuat pergerakan untuk lebih peduli dan melek politik.
Kan anak muda identik dengan pergerakan, pergerakan yang invisible.
Asumsi yang paling
manusiawi dari saya adalah mungkin sebenarnya banyak yang peduli dan melek
politik tapi hanya saja tidak terlihat, mereka sedang bergerilya. Banyak anak
muda yang peduli negara tapi hanya saja tidak disorot media massa? Semoga saja
memang begitu. Yang tidak terlihat
terkadang malah memberikan dampak, semoga begini adanya. Tetapi…..yang
terlihat saja sulit memberikan dampak apalagi yang tidak.
Asumsi kedua yang
paling ngawur dari saya adalah banyaknya tipe rakyat yang merasa peduli tanpa
beropini, mengaku bertindak tapi tidak terlacak, merasa bersuara tanpa
berbicara, berkontribusi tanpa hasil pasti,
dan hobi ngetwit tanpa data valid. Intinya terlalu banyak rakyat
yang memiliki sifat ‘merasa’ dan ‘mengaku’. Dua hal ini yang membuat rakyat
tidak terlihat.
Yang membuat saya yakin
kalau masih banyak rakyat yang membisu atas isu politik yang ada adalah masih
banyaknya pejabat yang korup. Carilah sendiri korelasinya. Kalau anda tidak
menemukan ya berarti memang tidak ada, tulisan saya di atas cuman ngawur. Lha
memang ngawur.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar