Kamis, 25 Juni 2015

Rakyat yang Tidak Terlihat

https://hollywoodhatesme.wordpress.com/tag/invisible-man/

Indonesia memang negara besar, maklum kita penduduknya lebih dari 200 juta. Eh, bukan negara besar tapi negara berpenduduk besar. Dengan penduduk yang begitu banyak sulit rasanya untuk menyatukan semua pendapat. Sebenarnya pendapat tidak perlu untuk disatukan juga, disesuaikan saja sudah cukup. Disesuaikan dengan keinginan para pejabat. Disesuaikan dengan keinginan media massa.

Media massa sering membawa-bawa headline “Rakyat menolak kebijakan…rakyat tidak setuju dengan…Pemerintah tidak memihak kepada rakyat…dan bla bla bla masih banyak headline lain yang selalu bawa-bawa rakyat”. Permasalahannya adalah rakyat yang mana yang kalian maksud hai para orang-orang yang berada di balik media penggiringan opini publik ini? Rakyat Indonesia? Sepertinya cuman itu-itu aja orangnya yang getol menolak kebijakan yang dianggap tidak pro rakyat? Yang lain ke mana? Kok diem aja? Termasuk saya.

Yang lagi panas-panasnya adalah rakyat menolak dana aspirasi DPR, entah aspirasi rakyat yang mana yang mau mereka tampung. Kalau dilihat dengan jeli, golongan rakyat yang dengan semangat menolak dana aspirasi (biasanya isu-isu politik yang lain juga) hanyalah berkutat pada LSM yang jumlahnya bisa dihitung, mahasiswa aktivis, sedikit rakyat dan segelitir akademisi-akademisi yang sedang tidak berpura-pura bisu dan tuli. Yang lain mungkin juga peduli tapi penolakannya cuman disimpan di dalam hati saja. Kenapa saya katakan sedikit rakyat? Karena rakyat Indonesia menurut saya bisa dibagi menjadi tiga golongan yaitu rakyat yang melek politik dan peduli politik, rakyat yang melek politik dan tidak peduli politik, dan rakyat yang tidak melek politik dan otomatis tidak peduli politik. Parahnya, golongan rakyat yang pertama saya sebutkan tadi adalah yang paling sedikit atau setidaknya yang mau menampakkan diri hanya sedikit. Golongan yang kita harapkan dapat membawa perubahan justru sangat miris kalau melihat jumlahnya.

Bingung aja, kenapa setiap kali ada kontroversi yang dibuat oleh wakil rakyat hanya segelintir orang saja yang dengan bersemangat menunjukkan bahwa mereka peduli dengan nasib negara?. Kenapa setiap ada kontroversi yang dibuat oleh wakil rakyat, timeline di Line dan Twitter saya tetap didominasi oleh kegalauan para remaja tentang percintaan yang seakan-akan beban dunia ini mereka sendiri yang menanggungnya?. Ah, semoga saja saya hanya salah follow orang. Padahal kita sedang mengalami bonus demografi dengan banyaknya rakyat dengan usia produktif yang tersedia. Dengan kondisi tersebut seharusnya banyak anak muda yang mampu membuat pergerakan untuk lebih peduli dan melek politik. Kan anak muda identik dengan pergerakan, pergerakan yang invisible.  

Asumsi yang paling manusiawi dari saya adalah mungkin sebenarnya banyak yang peduli dan melek politik tapi hanya saja tidak terlihat, mereka sedang bergerilya. Banyak anak muda yang peduli negara tapi hanya saja tidak disorot media massa? Semoga saja memang begitu. Yang tidak terlihat terkadang malah memberikan dampak, semoga begini adanya. Tetapi…..yang terlihat saja sulit memberikan dampak apalagi yang tidak.

Asumsi kedua yang paling ngawur dari saya adalah banyaknya tipe rakyat yang merasa peduli tanpa beropini, mengaku bertindak tapi tidak terlacak, merasa bersuara tanpa berbicara, berkontribusi tanpa hasil pasti,  dan hobi ngetwit tanpa data valid. Intinya terlalu banyak rakyat yang memiliki sifat ‘merasa’ dan ‘mengaku’. Dua hal ini yang membuat rakyat tidak terlihat.


Yang membuat saya yakin kalau masih banyak rakyat yang membisu atas isu politik yang ada adalah masih banyaknya pejabat yang korup. Carilah sendiri korelasinya. Kalau anda tidak menemukan ya berarti memang tidak ada, tulisan saya di atas cuman ngawur. Lha memang ngawur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar