Meskipun umat Islam
sedang berpuasa, tapi partai politik tetap haus dan lapar dengan harta. Berita
yang terbaru parpol sedang mengusulkan dana bantuan untuk mereka naik. Nggak
pakai ba bi bu langsung naik 10x lipat, udah kaya harga sembako aja. Saat ini
parpol mendapat bantuan sekitar Rp 108,00 per pemilih, jadi kalau ada 10
pemilih berarti dapat dana cuma-cuma Rp 1.080,00. Mereka bilang naik
karena alasannya sudah tidak naik selama 10 tahun lebih, jadi sudah tidak
relevan dengan kondisi zaman ini.
Sebelum minta dana
parpol yang berasal dari rakyat ini naik, cerita dulu dong dananya yang
dulu-dulu dipakai buat apa aja. Masa rakyat sebagai pemilik dana nggak tau?
Saya aja yang KKN dapat dana program harus melaporkan penggunaan dana beserta
bukti transaksinya. Open government is
just a bullshit in this country. Kalau partai politiknya saja tidak
bertanggung jawab atas dana yang didapat, gimana kader-kadernya yang di DPR.
Ngomong-ngomong saya
punya ide bagus, gimana kalau sistem dana bantuan untuk parpol ini disamakan
dengan sistem beasiswa untuk mahasiswa? Cuman yang berprestasi yang dapat dana,
selain menghemat anggaran juga memacu partai politik untuk berprestasi. Dengan
begini virus N-Ach (Need For Achievment) seperti yang dikatakan David
McClelland akan menyebar dengan cepat. Jadi, rakyat sebagai pemberi dana juga
senang melihatnya. Hahaha.
Enak banget kalau
parpol yang bahkan kita aja nggak tahu prestasinya (selain mencetak banyak
koruptor top) tiba-tiba minta dana bantuannya naik. Mahasiswa untuk dapat beasiswa mereka harus
belajar dengan gigih. Pertama-tama harus lolos ujian masuk perguruan tinggi
dahulu, setelah itu harus punya nilai bagus yang terstruktur, sistematif,
dan masif konsisten. Tahap selanjutnya mereka masih harus bersaing dengan
para pencari beasiswa lainnya, faktor yang menentukan bukan hanya nilai tapi
juga keaktifan di berbagai organisasi. Setelah itu baru dapat beasiswa. Buat
yang nggak dapat beasiswa tapi nggak mampu? Mereka biasanya harus kerja
sambilan setelah pulang kuliah, untuk menutupi uang kuliahnya. Meskipun nggak
dapat dana beasiswa dari negara atau perusahaan swasta, mahasiswa tetap mandiri
dan berjuang sendiri. Nah, kalau parpol? Ada prestasi nggak ada prestasi main
minta duit aja. Parpol dan mahasiswa itu sama, sama-sama ingin berkontribusi
untuk negara. Cuman beda jalan dan strateginya aja. Ini bukan berarti saya
menyamakan parpol dan mahasiswa lho, Pak. Enggak begitu, jangan marah, Pak.
Harusnya ada indikator
untuk menentukan prestasi parpol, apakah dia layak menerima bantuan atau tidak.
Misalnya, parpol berhak dapat dana kalau kadernya yang tersangkut korupsi tidak
lebih dari satu orang. Kalau begitu kan rakyat bangga ngasih uangnya. Parpol
yang kadernya nggak korupsi menurut saya itu sudah prestasi yang sangat besar,
susah loh berjalan di atas duri tanpa terkena durinya.
Jika memang tidak ada
prestasinya atau tidak memenuhi indikator yang ada, ya parpol harus bisa cari
dana sendiri untuk membiayai kegiatan politiknya. Kalau mahasiswa saja bisa
mandiri, masa parpol nggak bisa. Kan malu.
kita hidup di negara yang penuh kerakusan para penguasa!!
BalasHapus